ABOUT

SEJARAH

Jakarta
Philharmonic Orchestra

Jakarta Philharmonic Orchestra, atau Orkes Simfoni Jakarta,  merupakan cikal bakal  orkes simfoni pertama di Indonesia. 

Orkestra tertua yang diinisiasi oleh Ali Sadikin ini merupakan cikal bakal per-orkestra-an di Indonesia.

Seiring waktu, OSJ bertransformasi menjadi Jakarta Philharmonic Orchestra sejak 1998, dengan alm.Yudianto sebagai Direktur Musik dan Konduktor. 

JPO Saat INI

Turut Serta
Membangun Karakter bangsa

Saat ini di bawah Yayasan Philharmonic Society JPO kembali dipimpin sejumlah figur yang berkomitmen  memajukan musik Indonesia, dengan mengajukan berbagai inisiatif kreatif.

Salah satunya dengan membangun watak/karakter bangsa melalui pendidikan musik yang
bermutu.

The People

Aminoto Kosin

Music Director - Conductor

Aminoto mengawali pendidikan musiknya dengan belajar piano klasik pada usia 7 tahun. dan berlanjut di Berklee College of Music. Di sana, ia belajar conducting kepada George Monseur,  Conductor and Music Director Merrimack Valley Philharmonic.

Aminoto lulus tahun 1985 dengan gelar sarjana musik jurusan Professional Music. Ia juga meraih Oscar Peterson Award sebagai Outstanding Musicianship. Di kemudian  hari, dia bekerja dengan Phillip Green, seorang conductor terkemuka di Australia.

Selama 35 tahun karirnya, Aminoto adalah seorang performer, arranger, produser, composer, music director dan conductor dalam berbagai konser pertunjukkan dan acara TV. Ia telah menghasilkan banyak lagu-lagu hit di Indonesia dan bekerja sama dengan artis ternama di Asia dan Eropa, antara lain Patrizio Buanne, Due Voci dan The Berlin Strings Construction pada acara ITB Berlin, dan masih banyak lagi. 

Aminoto menerima posisi sebagai Music Director & Conductor di Jakarta Philharmonic Orchestra semata karena kecintaannya pada orkestra dan musik.

Ia berharap, kelak Jakarta Philharmonic Orchestra dapat menjadi rumah bagi komposer  dan musisi orkestra Indonesia.

The People

Sukanty Sidharta

Choir Director

Sukanty Sidharta mempelajari teknik vokal dari alm.Pranadjaja, serta belajar piano di Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Sukanty juga lulusan dari FMIPA Universitas Indonesia. 

Pendidikan musiknya mencakup masterclass oleh Jonathan Velasco(Filipina), serta musik kamar oleh Martyn van den Hoek (Belanda). Ia belajar memimpin paduan suara orkestra oleh Phillip Green (Australia), dan terakhir oleh Dr.Brady Allred (USA).

Pada 1992-1996, Sukanty menjadi anggota Paduan Suara Anak Indonesia pimpinan Aida

Swenson, dan dipercaya sebagai pianis dan asisten pelatih. Sukanty bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia Paragita (PSMUI-Paragita) pada 1995. Ia menjadi konduktor sekaligus pelatih selama 2001-2006. 

Di bawah bimbingannya, Paragita telah meraih beberapa penghargaan dalam kompetisi, baik berskala nasional maupun internasional. Pada 2000-2007, Sukanty menjadi salah satu staf pengajar di Sekolah Musik Yayasan Amadeus. 

Sebagai chorus master, ia sudah bekerja sama dengan musisi dan konduktor nasional maupun internasional. Sejak 2012, Sukanty menjadi choir master Jakarta Philharmonic Orchestra (JPO) dengan konduktor Yudianto Hinupurwadi. 

Bersama JPO, Sukanty turut menularkan good music ke sekolah-sekolah. Sekarang Sukanty aktif mengajar, memberi pelatihan, menjadi juri termasuk salah satu juri dan pelatih Paduan Suara Gita Bahana Nusantara (GBN) yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang anggotanya merupakan pemuda-pemudi terbaik dari 34 provinsi di Indonesia.

The People

Neneng Rahardja

Founder - CEO

Neneng belajar piano pada usia 9 tahun, atas permintaannya sendiri pada sang ayag yang mahir memainkan beberapa instrumen secara otodidak. Ia sempat mengajar musik dengan fokus pengajaran musik dasar anak di Yayasan Musik Indonesia (YMI), lalu mendirikan sejumlah Sekolah Musik bersub-lisensi YMI pada 1984. 

Kiprahnya mengajarkan musik ke sekolah-sekolah umum (TK- SMA) mendatangkan kepercayaan Direktorat Kesenian Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Tahun 2001, ia diminta mengelola dan merevitalisasi Bina Musika, tempat beberapa musisi ternama Indonesia menimba ilmu dasar musiknya. Melalui kampanye “Melek Musik” Bina Musika membantu sekolah-sekolah membentuk orkestra mereka, sehingga terbentuk sejumlah orkestra sekolah sampai saat ini. 

Neneng kemudian meneruskan meneruskan Orkes Simfoni Jakarta (OSJ) bersama  alm.Yudianto Hinupurwadi, Konduktor OSJ. Orkestra tertua yang diinisiasi oleh Ali Sadikin ini merupakan cikal bakal per-orkestra-an di Indonesia. Seiring waktu, OSJ bertransformasi menjadi Jakarta Philharmonic Orchestra sejak 1998, dengan alm.Yudianto sebagai Direktur Musik dan Konduktor. 

Selepas kepergian alm.Yudianto, Neneng melanjutkan JPO bersama Aminoto Kosin sebagai Direktur Musik dan Konduktor mulai tahun 2020, semata karena menyadari bahwa musik harus ‘ada’ di alam semesta ini. Bagaimanapun eksistensi musik ini harus terus berlanjut agar kelak terbangun sebuah ekosistem. 

Kini Neneng dikenal sebagai pegiat seni. Selain musik, kecintaannya terhadap peninggalan warisan budaya wastra juga menambah profesinya sebagai penata gaya wastra Nusantara. Demi melestarikan wastra, ia bahkan mendirikan JagaWastra.  

Baginya musik dan wastra mempunyai kemaknaan struktur yang sangat simetris dan teratur, sehingga tiada ekspresi lain yang diharapkan selain keindahan seperti yang diinginkan Albert Einstein.